Text
Perbandingan Kinerja Alat Pengering Efek Rumah Kaca dengan dan Tanpa Terintegrasi Kolektor Surya dan Tungku Biomassa untuk Mengeringkan Ubi Kayu
ABSTRAK
Ubi kayu atau singkong (manihot eculenta crants) merupakan produk hasil pangan terbesar kedua di Indonesia setelah padi. Ubi kayu juga sumber kalori yang mengandung karbohidrat 85,86 % dan pati sebanyak 74,81 % dalam keadaan segar. Selain dapat dikonsumsi secara langsung, ubi kayu dapat dijadikan bahan baku kerupuk ubi kayu. Selama ini proses pengeringan kerupuk dilakukan dengan cara menjemur langsung di bawah sinar matahari sehingga produk yang dihasilkan kurang baik. Untuk meningkatkan kualitas kerupuk maka dibuatlah alat pengering efek rumah kaca dengan atau tanpa terintegrasi kolektor surya dan tungku biomassa. Alat pengering ini terdiri dari kolektor surya, tungku biomassa, ruang pengering, exhaust fan dan blower. Pengeringan 55,5 kg dilakukan terhadap irisan ubi kayu yang memiliki kadar air awal
60,86 % pada alat pengering efek rumah kaca tanpa kolektor surya dan tungku biomassa hingga berkurang menjadi 22,87 % selama 13 jam. Dan memiliki kadar air awal 57,99
% pada alat pengering efek rumah kaca terintegrasi kolektor surya dan tungku biomassa hingga berkurang menjadi 4,61 % selama 7 jam. Dari pengujian yang telah dilakukan, diperoleh: 1) Pada alat pengering efek rumah kaca tanpa kolektor surya dan tungku biomassa efisiensi alat pengering maksimum dan rata-rata masing-masing 20,34 % dan
12 %. Spesific moisture evaporation rate (SMER) rata-rata 0,43 kg/KWh, laju pengeringan rata-rata 2,07 kg/jam. 2) Pada alat pengering efek rumah kaca terintegrasi kolektor surya dan tungku biomassa efisiensi alat pengering maksimum dan rata-rata masing-masing 12,12 % dan 6,32 %. Spesific moisture evaporation rate (SMER) rata- rata 0,31 kg/KWh, laju pengeringan rata-rata 4,44 kg/jam.
Kata kunci: ubi kayu, biomassa, alat pengering efek rumah kaca, efisiensi alat pengering
Tidak tersedia versi lain