Text
Pengaruh Temperatur Sintering Pada Pembuatan Scaffold PMMA Yang Ditinjau Dari Sifat Fisik dan Mekanik
ABSTRAK
Pada era saat ini dunia medis sangat memerlukan material yang bisa mengganti atau
memperbaiki fungsi dari setiap sistem utama tubuh manusia yang mengalami kerusakan, salah satunya pada bagian tulang manusia yang patah bahkan tidak bisa digunakan lagi, sehingga harus digantikan dengan tulang baru. Kasus kecelakaan di Indonesia tergolong cukup tinggi dapat dilihat dari data Departemen Kesehatan RI. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RIKERDAS) oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes RI tahun 2007 di Indonesia terjadi kasus fraktur yang disebabkan oleh cedera antara lain karena jatuh, kecelakaan lalu lintas, dan trauma benda tajam atau tumpul. Dari kenyataan diatas terlihat bahwa kebutuhan implan di bidang orthopaedi semakin meningkat. Dapat dilihat juga pada tahun 2012, di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta terdapat 16 pasien yang telah memasang implan atau 192 pasien per tahun. Implan yang digunakan adalah berbahan polimer. Bahan polimer yang digunakan bersifat biomaterial, polimer yang tergolong biomaterial salah satunya adalah PMMA. Dalam beberapa tahun terakhir, bahan yang paling umum digunakan dalam pembuatan scaffold adalah PMMA. Scaffold merupakan suatu struktur tiga dimensi yang digunakan sebagai media penyangga. Beberapa sifat yang harus dimiliki oleh scaffold ialah porus, biokompatibel, dan memiliki sifat fisik dan mekanik yang memuhi syarat standar scaffold. Suatu material dapat dikatakan memenuhi kandidat sebagai scaffold apabila memiliki porositas sekitar 60% -
90%, ukuran pori yang efektif untuk pertumbuhan tulang yaitu 100-400 µm dan memiliki kekuatan mekanik sebesar 2-20 MPa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh temperatur sintering terhadap pembuatan scaffold PMMA yang ditinjau dari fisik dan mekanik, penulis menawarkan solusi untuk pembuatan scaffold dengan kualitas yang tinggi dan biaya produksi yang ekonomis. Bahan utama dalam pembuatan scaffold adalah PMMA dengan metode slipcasting dan disintering menggunakan temperatur 115 oC ; 120 oC; 125 oC; 130 oC; 135 oC; dan 140 oC dengan heating rate = 5 oC/min diholding time selama 2 jam. Pengujian yang digunakan pada penelitian ini yaitu pengamatan struktru mikro menggunakan digital microscope (DM) dilanjutkan dengan pengamatan ukuran pori menggunak software imageJ, pengujian porositas, dan pengujian compressive strength. Pada pengamatan struktur mikro dengan digital microscope (DM) dan melakukan perhitungan menggunakan imageJ didapatkan ukuran pori beragam yang memenuhi syarat scaffold. Pada temperatur 115 oC dimulai dari rentang 102-351 (µm). Pada temperatur 120 oC dimulai dari rentang 132-221 (µm). Pada temperatur 125 oC dimulai dari rentang 106-306 (µm). Pada temperatur 130 oC dimulai dari rentang 103-250 (µm). Pada temperatur 135 oC dimulai dari rentang 106-421 (µm). Pada temperatur 140 oC dimulai dari rentang 105-169 (µm). Berdasarkan data pengujian porositas dan compressive strength, scaffold PMMA yang memenuhi syarat kualitas adalah pada temperatur sintering 125 oC, 130 oC, dan 135 oC. Nilai porositas dan compressive strength masing-masing adalah 70,6% ; 3,1 MPa, 70,5% ; 3,6 MPa, dan
62,2% ; 7,5 MPa.
Kata kunci : PMMA, Aquades, Struktur Mikro, Porositas, dan Compressive strength.
Tidak tersedia versi lain