Text
PEMETAAN POLA EKSPANSI LAHAN TERBANGUN MENGGUNAKAN CITRA MULTI SPEKTRAL DAN MULTI TEMPORAL DI KOTA PADANG TAHUN 2004 SAMPAI 2022
Proses ekspansi lahan terbangun yang tidak terkendali akan berdampak seperti
hilangnya lahan yang memiliki fungsi ekologis juga memiliki dampak buruk ke
permasalahan lingkungan. Untuk mencegah dampak buruk dari lahan terbangun yang tidak
terkendali, Maka harus dilakukannya monitoring dan memprediksi bagaimana
perkembangan lahan tersebut untuk kedepannya, Agar dapat mengantisipasi titik
permasalahan dan mencari solusi sebelum terjadinya dampak buruk yang diperkirakan. Pada
ekspansi perkotaan terbagi menjadi 4 jenis model antara lain, lompatan (leapfrogging/
outlying), ekspansi tepi (edge-expansion), pengisian (infilling) dan memanjang (stripping),
yang dalam cakupan luas diakui untuk menggambarkan morfologi perkembangan perkotaan,
(Afwan dkk, 2015).
Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode NDBI
(Normalized Difference Built-up Index). Hasil penelitian ini menunjukan perubahan lahan
terbangun pada tahun 2004 sampai 2008 seluas 319,35 hektar, luas lahan terbangun pada
tahun 2009-2013 seluas 330,39 hektar, pada tahun 2014-2018 seluas 343,14 hektar, pada
tahun 2019-2022 terjadi pengikatan perubahan lahan terbangun yang cukup besar dengan
luas 1101,72 hektar. Hasil kesesuaian luas lahan terbangun Kota Padang pada tahun
pengamatan 2022 terhadap peta RTRW Kota Padang yaitu dengan luas 3329,18 hektar untuk
lahan terbangun yang sesuai, sedangkan lahan terbangun yang tidak sesuai yaitu seluas
14336,22 hektar.
Kata Kunci: Kota Padang, Penginderaan jauh, NDBI, Perubahan lahan terbangun.
Tidak tersedia versi lain