Text
DESAIN PROTOTYPE PENAMBAHAN ARRESTER PADA ARCING HORN (SALURAN TRANSMISI PAYAKUMBUH-KOTO PANJANG 150 KV PADA AREA CADAS)
Petir merupakan fenomena alam yang terjadi secara alami dan tidak dapat kita cegah. petir
mempengaruhi sistem transmisi penyaluran daya listrik ke pelanggan pengguna listrik. Petir
dapat merusak komponen yang ada pada menara transmisi, yang membuat sistem tramsmisi
daya listrik menjadi terganggu. Menara transmisi yang berada di daerah perbukitan yang
tinggi membuat menara transmisi menjadi sasaran utama petir untuk menyalurkan kelebihan
muatannya akibat gesekan elektron diawan. Khusunya saluran transmisi 150 kV
Payakumbuh-Koto Panjang di Sumatra Barat yang memiliki gangguan petir sebesar 66%
Menurut data Pusat Pengendalian Distribusi dan Beban Sumatra (P3B Sumatra). Salah satu
komponen yang digunakan untuk mengurangi kerusakan isolator akibat sambaran petir
adalah arcing horn. Namun itu tidak cukup, maka dari itu perlu adanya gabungan komponen
arcing horn dengan arrester. Dengan menggabungkan dua komponen tersebut tegangan lebih
yang diakibatkan oleh sambaran petir bisa dipotong oleh arrester. Penambahan arrester pada
sisi isolator mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap tegangan surja, dengan
menambahkan 2 arrester pada sisi isolator tegangan yang mampu di potong oleh arrester
adalah 88,3% dari tegangan surja yang diberikan dan jika menggunakan 1 arrester tegangan
yang terpotong adalah 79,1% dari tegangan petir yang di berikan berdasarkan simulasi
menggunakan software EMTP.
Kata kunci : arrester, back flashover, BFO , EGLA, sambaran petir.
Tidak tersedia versi lain