Text
Sifat Fisik dan Mekanik Komposit Limbah Biomassa Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS/Epoxy) untuk Kandidat Bahan Rangka Sepeda
Abstrak
Sepeda adalah kendaraan beroda dua atau tiga, mempunyai setang, tempat duduk, dan sepasang pengayuh yang digerakkan kaki untuk menjalankannya. Sepeda juga sebagai benda transportasi yang sederhana, tanpa motor sehingga di indonesia dikenal sebagai kereta angin. Di indonesia alat transportasi ini dikenal dengan beberapa istilah antara lain: Sepeda onthel, sepeda kebo, atau pit
pancal. Dikarenakan banyaknya peminat pemakaian sepeda sedang berkembang pesat sehingga harga sepeda meningkat maka muncul lah sebuah ide yang mana ide tersebut adalah pembuatan rangka sepeda dengan memanfaatkan limbah biomassa agar mengetahui sifat fisik dan mekanik berbahan limbah biomassa (Tandan Kosong Kelapa Sawit) TKKS pada pengujian tarik dan uji
pengamatan struktur makro, serta mengetahui apakah limbah biomassa TKKS dapat digunakan sebagai bahan alternatif pengganti material rangka sepeda yang ada saat ini. Komponen utama dibuat dengan proses mencampurkan resin epoxy dengan serat tandan kosong kelapa sawit, adapapun tahapan proses pengerjaannya yaitu perancangan cetakan, penyiapan limbah biomassa dan perekat, pencetakan dengan memiliki 6 komposisi dengan skala laboratorium, pengujian dan analisis. Selain itu juga dilakukan analisa pada serat menggunakan image-J. Uji tarik berguna untuk mengetahui berapa beban maksimal sampel tersebut dalam menerima beban, dan pengamatan struktur makro bertujuan untuk menentukan mutu suatu material secara visual. Uji tarik mendapatkan hasil pada komposisi 100% dengan beban 39,22 N, 90%:10% dengan beban rata-rata 39,26 N, 80%:20% dengan beban rata-rata 35,95, 70%:30% dengan beban rata-rata 39,22N, 60%:40% dengan beban rata-rata 45,09 N, 50%:50% dengan beban rata-rata 68,64 N. Setelah melakukan pengamatan menggunakan alat digital mikroskop optic pada bagian crack specimen uji tarik. Kita mendapat kesimpulan bahwa jumlah serat dapat mempengaruhi tinggi atau rendahnya specimen tersebut dalam menerima beban terbukti pada pengamatan mikroskop komposisi 50:50% pada bagian putus terdapat banyak serat yang keluar karena serat tersebut saling mengikat satu sama lain. Sementara berbanding terbalik pada komposisi 100% karena serat untuk mengikat tidak ada sama sekali. Dan pada komposisi 60:40% kekuatan tariknya sedikit lebih rendah dari kompisisi 50:50% karena serat yang mengikat lebih sedikit. Begitu seterusnya 70:30%, 80:20% dan 90:10% karena serat yang saling mengikat antara satu sama lain semakin sedikit. Hasil uji ini diharapkan mampu dikembangkan agar bisa memanfaatkan limbah-limbah yang ada.
Tidak tersedia versi lain