Text
Perencanaan Koordinasi Isolasi Peralatan Tegangan Tinggi Gardu Induk 150 kV Berdasarkan Arus Surja Petir Pada Sistem Interkoneksi Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) dan Sumatera Bagian Tengah (Sumbateng)
Hasil simulasi menunjukkan adanya pengaruh peletakan arrester, terhadap besarnya tegangan lebih yang terjadi pada transformator daya seperti; Sistem penempatan arrester pada trafo transmisi 150 kV sangat mempengaruhi besarnya tegangan surja yang terjadi pada trafo dan arrester, dan mempengaruhi besarnya arus surja yang mengalir pada kawat lebur dari CO. Sistem-1 merupakan sistem penempatan arrester yang efektif. Dari segi tegangan surja yang dihasilkan: sistem ini tidak mudah menghasilkan tegangan surja yang tinggi sehingga dari keempat sistem yang ada, sistem-1 merupakan sistem yang menghasilkan tegangan surja paling rendah baik pada trafo maupun pada arrester. Tegangan lebih yang terjadi pada peralatan akibat arus surja petir nilainya semakin besar bila jarak peletakan lightning arr ester dari peralatan tersebut semakin besar yakni, untuk peletakan lightning arrester pada jarak 6 meter, maka nilai tegangan puncak pada masing- masing peralatan, CT adalah 543,837 kV, CB adalah 566,659 kV, DS adalah 579,357 kV, Arrester adalah 527,884 dan Transformator Daya adalah 527,884 kV. Sedangkan pada jarak 10 meter, tegangan lebih yang timbul pada masing-masing peralatan bertambah, CT adalah 543,600 kV, CB adalah 567,269, DS adalah 579,381, Arrester adalah 528,097 kV dan Transfor mator Daya adalah 528,123 kV. Semakin curam bentuk gelombang arus petir yang masuk ke gardu induk, maka semakin besar nilai tegangan lebih yang sampai pada peralatan yang dilindungi. Untuk jarak peletakan yang sama yaitu 6 meter, diperoleh 527,884 kV untuk sambar an petir 87 kA, 8/20s, 559,222 kV untuk sambaran petir 87 kA, 1/70s, 558,803 kV untuk sambar an petir 87 kA, 1,2/50s
Kata kunci: Koordinasi Isolasi, Tegangan Lebih Transi en, EMTP
Tidak tersedia versi lain