Text
ANALISA KARAKTERISTIK GETARAN AKIBAT MISALIGNMENT POROS MESIN ROTARI BERBANTUAN SISTEM PEMANTAUAN KONDISI BERBASIS GETARAN
Misalignment poros adalah ketidaklurusan pada sumbu poros yang bergerak dengan
yang digerakkan (dua poros terletak tidak pada garis sumbu). Jenis-jenis misalignment
poros yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah offset misalignment dan
angular misalignment. Offset misalignment terjadi antara garis sumbu dua poros
berputar sejajar tetapi tidak berada dalam satu garis sumbu. Angular misalignment
terjadi antara poros pada kopling tidak segaris dan berpotongan membentuk sudut
tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa getaran yang diakibatkan oleh offset
misalignment, angular misalignment dan kombinasinya pada sebuah prototipe mesin
rotari. Mesin rotari pada penelitian ini berupa sebuah prototipe yang menggunakan
motor listrik sebagai penggerak, kopling untuk mentransmisikan daya motor ke
poros-rotor yang digerakkan. Poros-rotor dari mesin rotari ini ditumpu oleh dua buah
bantalan yaitu satu bantalan di ujung poros yang dekat kopling (bantalan L) dan satu
bantalan di ujung lainnya (bantalan R). Sensor getaran pada pengujian getaran mesin
ditempatkan di atas bantalan L (sensor#L) dan di atas bantalan R (sensor#R). Kedua
sensor ini terhubung dengan interface berupa hardware DSA yang terhubung ke laptop
yang telah terinstall dengan software DSA. Kedua sensor dan DSA ini merupakan sistem
VCM yang dapat mengakuisisi dan menampilkan sinyal getaran terukur. Pada pengujian
ini dilakukan offset misalignment dengan variasi 1, 2 dan 3 mm, sedangkan pada
angular misalignment dilakukan pengujian dengan variasi 2
0
, 40
dan 60
. Ciri getaran
offset misalignment poros pada transmisi kopling, didapatkan pola spektrum amplitudo
di frekuensi satu kali putaran poros (1X) lebih rendah dari amplitudo spektrum di
frekuensi dua kali putaran poros (2X) dan spektrum amplitudo di frekuensi tiga kali
putaran poros (3X) lebih rendah dari amplitudo di frekuensi 2X dan 1X. Amplitudo
dominan tertinggi pada offset misalignment 3 mm di sensor #L diperoleh harga sebesar
2.333 untuk 1X, 2.873 untuk amplitudo 2X dan 1.376 untuk amplitudo 3X, di sensor #R
diperoleh harga amplitudo sebesar 2.267 untuk amplitudo 1X, 3.45 untuk frekuensi 2X
dan 1.182 untuk 3X. Ciri getaran angular misalignment pada transmisi kopling,
didapatkan pola spektrum amplitudo di frekuensi satu kali putaran poros (1X) lebih
tinggi dari Spektrum amplitudo di frekuensi dua kali putaran poros (2X) dan amplitudo
spektrum getaran di frekuensi tiga kali putaran poros (3X) lebih rendah dari amplitudo
spektrum di frekuensi 2X dan 3X, amplitudo dominan tertinggi pada angular
misalignment 6
0
diperoleh harga di sensor #L adalah sebesar 2.66 untuk 1X, 1.101
untuk 2X dan 0.7384 untuk 3X pada sensor #R diperoleh harga amplitudo adalah
sebesar 2.912 untuk 1X, 1.293 untuk 2X dan 0.864 untuk 3X sedangkan pada kombinasi
misalignment muncul amplitudo spektrum getaran di frekuensi dominan terbesar pada
satu kali putaran poros (1X), diikuti oleh spektrum amplitudo getaran di frekuensi dua
kali putaran poros (2X) dan spektrum amplitudo getaran di frekuensi tiga kali putaran
poros (3X). Spektrum getaran amplitudo dominan terhadap frekuensi terdapat pada
pegukuran (mstk36) diperoleh harga amplitudo pada sensor#L adalah sebesar 3.149
untuk 1X, 2.62 untuk 2X dan 1.102 untuk 3X, harga amplitudo dominan pada sensor#R
adalah sebesar 3.373 untuk 1X, 2.792 untuk 2X dan 1.162 untuk 3X.
Kata kunci: mesin rotari, poros, getaran, offset misalignment, angular misalignment,
kombinasi misalignment, accelerometer berbasis MEMS, amplitudo,
frekuensi
Tidak tersedia versi lain