Text
Perbandingan Penerapan Geocoding untuk Wilayah Perkotaan di Sumatera Barat ( Studi Kasus : Kota Padang dan Kota Bukittinggi)
Pada umumnya bangunan di wilayah perkotaan Sumatera Barat memiliki masalah dengan penamaan dan penataan alamat yang menyebabkan beberapa pihak mengalami kendala karena kurang terstrukturnya alamat pada wilayah tersebut. Oleh sebab itu, penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui berapa banyak alamat yang tidak sesuai dan memiliki permasalahan melalui proses geocoding alamat. Penelitian ini membahas tentang penerapan geocoding serta perbandingan hasil penerapan geocoding dari dua wilayah perkotaan yaitu Kota Padang dan Kota Bukittinggi. Data penelitian didapat dari hasil survey lapangan dan wawancara dibeberapa instansi yaitu Badan Pusat Statistik, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, dan PT Pos Indonesia. Model address locator yang digunakan adalah US Address – Single House. Perangkat lunak yang digunakan untuk melakukan proses geocoding yaitu Software QGIS. Hasil yang diperoleh dari proses geocoding alamat Kota Padang dan Kota Bukittinggi didapatkan data yang berhasil di geocoding pada Kota Padang berjumlah 77% dan untuk data yang gagal di geocoding berjumlah 23% dari 82 jumlah data sampel yang diambil di lapangan. Sedangkan untuk Kota Bukittinggi data yang berhasil di geocoding dan memiliki kecocokan data sebanyak 64% dan untuk data yang gagal berjumlah 36% dari 120 jumlah data sampel yang diambil saat survey lapangan.
Kata Kunci : Alamat, Geocoding, QGIS
Tidak tersedia versi lain