hal.86) Mereka sepenuhnya percaya bahwa dongeng diciptakan sebagai jawaban untuk pertanyaan yang tak akan ada habisnya…. (hal.139) Membaca buku ketiga dalam trilogi ini pada waktu yang cukup jauh dari buku sebelumnya relatif sulit, karena ada beberapa detail yang berhubungan. Meski tidak utama, rasanya membaca ketiga buku ini kembali dalam waktu yang berturutan akan memberi sensasi yang berbeda. Terutama tarik-ulur hubungan Pingkan dengan Sarwono yang (mungkin) akan mencapai titik akhir di sini. Sebagaimana kedua novel sebelumnya, dalam buku ini, penulis masih berakrobat dengan menampilkan narasi, epistolary, dan stream of consciousness secara bergantian. Ada satu titik saya merasa trilogi ini sesungguhnya tidak perlu menjadi trilogi, tetapi menjelang akhir saya memahami, bahwa sejak awal, buku ini bukan sekadar ingin menyampaikan kisahnya, ada hal yang lebih dalam di balik itu. Terlebih dengan adanya berbagai gurauan dan sindiran sosial dan filosofis, yang terselip dalam percakapan Pingkan dengan Sarwono, menjadikan lingkup kisah ini meluas, sehingga menjadi terhubung dengan kehidupan kita saat ini. Secara keseluruhan, membaca buku ini seperti membaca puisi, yang perlu kita reguk saripatinya dan mengabaikan beberapa kalimat yang tampak tak berarti, tapi berarti, tapi sulit dipahami seutuhnya. Apakah aku boleh tidak paham, Ping? Boleh, Sar, toh paham atau tidak paham tidak ada bedanya. (hal.140) Ada satu hal yang mengganjal dalam buku ini, disebutkan saat Pingkan yang masih SMP ditegur kakaknya agar berkirim WA atau surel saja dengan Sarwono, sedangkan saat ini dia telah menjadi dosen, twitter masih menampung hanya 140 karakter. Lubang waktu itu tak terlalu penting jika dilihat dalam lingkup Yang Fana Adalah Waktu ini, tapi cukup mengganggu. Di luar itu, penulis—yang bisa dikatakan berasal dari generasi lampau—berusaha betul-betul untuk memasukkan unsur kekinian dalam novelnya, bahkan jauh lebih tega dan lebih berani ketimbang penulis yang lebih muda dalam genre yang serupa. Saya rasa hal ini mengukuhkan sikap beliau terhadap unsur kebaruan dalam karya sastra. Kisah ini pun akhirnya ditutup dengan manis dan apik, semanis gula-gula yang mewujud lapisan-lapisan awan. 4/5 bintang untuk babak akhir pertunjukan karya sastra ala Pak Sapardi. Katamu kenangan itu fosil, gak bisa diapa-apakan. Tapi yang ini bisa. (hal.95)" />