Text
Studi Analisis Kinerja Persimpangan Prioritas (Studi Kasus : Simpang Tiga Pasar Baru dan Simpang Malintang Kota Padang)
Kota Padang adalah Ibukota Provinsi Sumatera Barat yang memiliki jumlah penduduk di tahun 2019 ± 939.112 jiwa (BPS Kota Padang, 2019) dan selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Simpang Pasar Baru dan Simpang (Melintang) adalah salah satu persimpangan yang berdekatan di Kota Padang dan sering terjadi konflik kemacetan dengan berbagai faktor penyebabnya. Di sekitar lokasi simpang tersebut termasuk kawasan yang banyak dijadikan sebagai tempat berdagang kebutuhan harian dan tempat pendidikan sehingga menghasilkan kepadatan lalulintas dengan berbagai faktor. Tujuan penelitian ini adalah memberikan alternatif penanganan yang tepat dari permasalahan yang terjadi pada persimpangan tersebut dengan menganalisis tingkat pelayanan pada Simpang Pasar Baru dan Simpang Malintang Kota. Metode yang digunakan dalam penulisan laporan ini adalah Metode Manual Kapasitas Jalan Indonesia ( MKJI 1997), berdasarkan hasil survei kinerja simpang yang lakukan dalam 3 ( tiga) hari didapatkan data arus lalulintas paling besar pada Simpang (Pasar Baru)
yaitu hari senin tanggal 20 Januari 2020 pukul 17.00 – 18.00 wib dengan nilai total Volume lalulintas (Qtotal) = 3821 smp/jam, Kapasitas (C) 3871 smp/jam, Derajat Kejenuhan (DS) = 0,99, pada Simpang Melintang data arus lalulintas paling besar yaitu
hari Rabu tanggal 22 Januari 2020 pukul 16.15 – 17.15 wib dengan nilai total Volume lalulintas (Qtotal) = 2586 smp/jam, Kapasitas (C) 3723 smp/jam, Derajat Kejenuhan (DS) = 0,69, maka di usulkan tiga buah alternatif penanganan dengan uraian jika memakai alternatif 1 yaitu pelebaran jalan nilai Derajat Kejenuhan (DS) akan menjadi 0,83, Tundaan (D) = 18,44, alternatif 2 adalah menghilangkan hambatan samping maka didapatkan Derajat Kejenuhan (DS) = 0,90, Tundaan (D) =15,50, alternatif 3 adalah gabungan alternatif 1 dan 2 maka didapatkan nilai Derajat Kejenuhan (DS) = 0,56, Tundaan (D) 9,91, alternatif 3 adalah pemasangan rambu pengatur lalulintas (Sinyal) maka didapatkan nilai Derajat Kejenuhan (DS) = 0,33, Tundaan (D) 21,9. Sedangkan untuk simpang Melintang jika memakai alternatif 1 yaitu pelebaran jalan nilai Derajat Kejenuhan (DS) akan menjadi 0,54, Tundaan (D) = 9,27, alternatif 2 adalah menghilangkan hambatan samping maka didapatkan Derajat Kejenuhan (DS) = 0,69, Tundaan (D) =11,05, alternatif 3 adalah pemasangan rambu pengatur lalulintas (Sinyal) maka didapatkan nilai Derajat Kejenuhan (DS) = 0,52, Tundaan (D) 84.
Kata kunci : Volume Lalulintas, Kapasitas Persimpangan, Derajat Kejenuhaan, Tundaan, Peluang antrian.
Tidak tersedia versi lain